Sunday, December 20, 2015

Salam Buat yang Mau Sidang

Lucu, penuh intrik dan pantas disebut sebagai dagelan terpopuler tahun ini. mungkin itulah yang tergambar dari sidang MKD baru-baru ini. Drama terbaik yang dirilis langsung dari senayan ini pantas disandingkan dengan kepopuleran drama-drama turki yang menjamur di berbagai stasiun televisi. Tontonan yang lucu, menarik dan menguras emosi itu telah berakhir dengan suatu keputusan yang ngambang. Iya ngambang kayak kotoran gitu… eh, jangan ngomong kotoran deng, otak kamu emang udah kotor. Kasihan kalau saya kotorin lagi. Oh ya untuk merenovasi otak kamu yang kotor karena sidang MKD mari kita lihat beberapa pesan dari anggota MKD bagi kamu yang udah mau sidang proposal.
1.          Sidang segera dimulai
2.          Jangan lupa bentar lagi sidang
3.          Pak Dosen yang Mulia
4.          Papa minta revisi
5.          Pedihbahasa
6.          Masih pedihbahasa
7.          Papa minta kamu lulus nak

Tulisan ini tidak memiliki motif politik atau pun suatu hal yang dengan sengaja mencemarkan nama seseorang. Saya juga bukan seorang manusia suci yang pantas menjadi hakim bagi pejabat publik. Tapi ini hanya gambaran tentang yang saya pikirkan. Terus saya hubungkan dengan pengalaman pribadi saya. Semoga menghibur. 

Friday, December 18, 2015

Ua Een yang Penuh Kasih!


Sang guru qalbu adalah sebutan yang diberikan oleh dosen beliau semasa kuliah di UPI, Profesor Surya. Sebuah julukan yang pantas disandang sang guru yang memiliki semangat mengajar tinggi. Tidak diragukan lagi bahwa beliau memiliki semangat mengajar lebih baik dibandingkan guru-guru pada umumnya. Dengan segala keterbatasannya beliau menjadi seorang pendidik sejati yang bersungguh-sungguh berjuang mengikuti panggilan hatinya menjadi seorang guru. Een Sukaesih, nama itu melekat pada dirinya. Sebuah nama yang tidak asing lagi bagi masyarakat Sumedang, bahkan sudah dikenal luas di Indonesia sebagai seorang guru berhati mutiara.
Sejak lulus kuliah Een Sukaesih terbaring sakit di tempat tidurnya. Penyakit Rematoid Artifis yang menyerang tubuhnya membuat sang guru tak berdaya. Kelumpuhan sang guru qalbu berawal ketika ia duduk di kelas 3 SPG (sekolah pendidikan guru). Saat itu beliau seringkali mengeluhkan sakit pada sendi-sendi tangannya. Walau demikian beliau berjuang keras dan berkuliah di UPI Bandung. Setelah lulus dengan nilai cukup baik, perempuan yang dipanggil Ua Een itu diangkat menjadi guru di SMA Sindang Laut, Cirebon, Jawa Barat. Namun harapan beliau menjadi guru pupus karena penyakit Rematoid Artifis yang dideritanya semakin parah dan beliau mengalami kelumpuhan total. Mengingat keadaannya yang lumpuh Ua Een pernah mengalami stress berat dan marah dengan keadaan hidupnya, saking marahnya beliau merusak ijazah kuliahnya.
Dalam keadaan Ua Een yang demikian, akhirnya sang guru qalbu memilih jalan ikhlas menerima takdirnya. Mengajar anak kerabat merupakan pekerjaan yang menyenangkan bagi beliau untuk mengisi waktu luangnya. Pendekatan yang menarik dan penuh cinta kasih membuat tetangga-tetangga Ua Een mulai mempercayakan beliau untuk mengajar anak-anaknya. Sungguh mulia pekerjaan Ua Een yang mengajar secara sukarela dengan keadaannya yang memprihatinkan itu. Tidak heran jika muridnya semakin bertambah dari waktu ke waktu. Usaha Ua Een ternyata terendus oleh media massa. Hal ini membuat sang guru kalbu di ganjar berbagai penghargaan berikut: Dompet Dhuafa Award 2010, Education Award dari Bank Syariah Mandiri, Kartini Award, dan berbagai penghargaan lainnya. Kini sudah satu tahun beliau wafat dan mewariskan semangat mendidiknya pada generasi muda Indonesia. Saya selalu dibuat malu dengan perjuangan beliau dalam dunia pendidikan, malu karena seorang anak muda seperti saya tak bisa berbuat sesuatu yang luar biasa seperti beliau.

fly to the sky :)

Thursday, December 17, 2015

Ikut SM3T Yukss!



Program sarjana mengajar di daerah terluar, tertinggal, dan terdepan atau lebih dikenal dengan sebutan SM3T adalah program pendidikan yang marak dibicarakan dalam beberapa tahun ke belakang. Hingga saat ini sudah ada lima angkatan guru SM3T yang telah mengabdi ke berbagai pelosok Indonesia. Bagi kamu yang sedang menempuh pendidikan di LPTK atau mungkin yang sudah lulus LPTK yang sudah lulus tapi masih nganggur atau ingin mengajar di daerah pedalaman, SM3T mungkin salahsatu pilihan yang layak kamu pertimbangkan. Program yang yang terinspirasi dari Program Indonesia Mengajar-nya Anies Baswedan ini sangat populer di dunia pendidikan Indonesia, mengingat profesi guru yang begitu lekat dengan pengabdian.
Bagi pembaca yang cantik dan ganteng syarat SM3T itu gak susah loh. Pertama, Anda adalah warga Indonesia yang lulus dalam tiga tahun terakhir. Artinya, untuk mengikuti Program SM3T tahun 2016 pesertanya adalah lulusan tahun 2014, 2015, dan 2016. Kedua, maksimal berusia 27 tahun pada akhir tahun Program SM3T yang diikuti. Ketiga, IPK di atas 3.00 dan berbadan sehat dibuktikan dengan transkip nilai dan surat keterangan dokter. Ketiga berkelakuan baik dan bebas narkoba, dibuktikan dengan SKCK dan SKBN. Keempat, belum menikah dan bersedia menunda pernikahan (sabar ya nikahnya setelah SM3T aja). Kelima, Belum pernah mengikuti program SM3T sebelumnya dan sanggup mengikuti PPG setelah satu tahun mengajar SM3T.
Pendaftaran SM3T biasanya dibuka setiap bulan Maret sampai Agustus. Bagi Anda yang berminat mengikuti SM3T daftarkan diri Anda di bulan-bulan tersebut. Siapkan mental dan pengetahuan Anda tentang dunia pendidikan supaya tesnya lancar dan tentu dapat lulus tes online, wawancara dan prakondisi. Untuk prakondisi sendiri konon Anda akan digembleng dengan pendidikan semi militer, bagi Anda yang cengeng waspadalah, waspadalah. Katanya SM3T itu digaji ya? Berapa sih gajinya? Mungkin pertanyaan itu sering muncul di benak Anda. Mau tanya ke forum-forum takut di buli, diejek gak tulus dan lain sebagainya. Sekadar bocoran uang saku bagi peserta SM3T ada di kisaran dua jutaan loh. Ah lupakan gaji dan uang saku entar ada yang ngebuli Anda. Tetap semangat ya J


Hidup memang tak pasti, dan ketidakpastian itu yang membuat kita hidup.

Wednesday, December 16, 2015

Pelacur

Malam ini aku duduk di kampusku bersama seorang gadis cantik
Aku begitu betah, dan tak mau pulang
Jika pulang pun ingin rasanya membawa gadis itu dan kukenalkan pada ibuku
Mungkin dia akan jadi ibu bagi anak-anakku juga
Ah,,, apa salahnya berkhayal
Dia gadis cantik dengan jilbab syar’i melekat pada tubuhnya
Senyumnya menawan
Ingin rasanya kusiram air keras padanya agar senyumnya abadi
Khayalanku pudar
Seorang munci genit datang padanya
“Siapakah dia?”
“Kenapa bisa ia berteman dengan munci murahan itu?”
Hatiku meradang, kesal, kecewa dan marah
Gadis itu berlalu, ia berjalan ke lorong gelap bersama kawanan munci
Dan aku mulai membenci diriku

Sumedang, 18 Juli 2015


Wednesday, December 9, 2015

Kekasihku Layla

Kemarilah, kekasihku.
Kemarilah Layla, dan jangan tinggalkan aku.
Kehidupan lebih lemah daripada kematian, tetapi kematian lebih lemah daripada cinta...
Engkau telah membebaskanku, Layla, dari siksaan gelak tawa dan pahitnya anggur itu.
Izinkan aku mencium tanganmu, tangan yang telah memutuskan rantai-rantaiku.
Ciumlah bibirku, ciumlah bibir yang telah mencuba untuk membohongi dan
yang telah menyelimuti rahsia-rahsia hatiku.
Tutuplah mataku yang meredup ini dengan jari-jemarimu yang berlumuran darah.
Ketika jiwaku melayang ke angkasa, taruhlah pisau itu di tangan kananku dan
katakan pada mereka bahawa aku telah bunuh diri kerana putus asa dan cemburu.
Aku hanya mencintaimu, Layla, dan bukan yang lain, aku berfikir bahwa tadi
lebih baik bagiku untuk mengorbankan hatiku, kebahagiaanku, kehidupanku
daripada melarikan diri bersamamu pada malam pernikahanmu.
Ciumlah aku, kekasih jiwaku... sebelum orang-orang melihat tubuhku...

Ciumlah aku... ciumlah, Layla...

kahlil gibran

Hasil gambar untuk kahlil gibran

Tuesday, December 8, 2015

Generasi Karakter Instan


Perkembangan jaman telah memberikan dampak yang begitu besar terhadap kehidupan bermasyarakat. Fasilitas yang serba mewah dan lengkap tentu dapat dinikmati oleh beberapa masyarakat yang berasal dari kalangan menengah ke atas. Keadaan yang serba berkecukupan ini telah menjerumuskan generasi muda indonesia kedalam keadaan yang serba instan dan cepat. Karakteristik masyarakat yang sangat gila terhadap sesuatu yang instan ini menjadi ancaman yang menakutkan bagi generasi muda indonesia, terutama bagi anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Generasi berkarakter instan mulai tumbuh dalam kehidupan bermasyarakat, bahkan pertumbuhannya begitu didukung oleh keadaan di lingkungan masyarakat dan lingkungan sekolah siswa sekolah dasar. Keadaan yang mengkhawatirkan ini tentu membutuhkan penyelesaian sesegera mungkin dari berbagai pihak, terutama para pendidik.
Kata kunci: generasi berkarakter instan, karakter instan
A.         Generasi Berkarakter Instan
Generasi berkarakter instan adalah generasi bangsa yang memiliki karakter yang mengagungkan proses yang cepat dan mudah dibandingkan dengan proses bekerja keras dengan usaha yang jujur. Generasi instan ini cenderung mengambil jalan pintas dalam menghadapi masalah dalam hidupnya. Faktor kemalasan dan biasa dimanjakan dengan fasilitas mewah yang tersedia dengan mudah tentu menjadi penyebab utama munculnya generasi berkarakter instan ini. Lalu, seperti apa generasi berkarakter instan itu? Untuk memahami generasi berkarakter instan diperlukan beberapa indikator untuk mengetahui sebuah generasi dikatakan berkarakter instan atau tidak. Menurut Jamal Ma’mur Asmani, ada lima indikator generasi berkarakter instan. Adapun kelima indikator tersebut adalah sebagai berikut ini.
1.           Suka Memburu Tren Negatif
Tren yang dimaksud disini adalah kecenderungan untuk mengikuti hal-hal terbaru yang sedang banyak dilakukan atau dipakai oleh masyarakat umum. Dalam mengikuti tren yang ada di Sekolah Dasar terkadang dilakukan dengan membabi buta. Terkadang tren yang berkembang di Sekolah Dasar tidak hanya tren yang positf. Beberapa tren negatif bahkan berkembang di lingkungan sekolah, bahkan orangtua pun ikut ambil bagian dalam pemburuan tren negatif ini.
Salahsatu tren negatif yang paling  banyak terjadi di lingkungan sekolah dasar adalah tren membawa handphone ke sekolah. Siswa sekolah dasar yang seharusnya bermain dengan melibatkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor bersama teman-temannya, kini terbelenggu dengan adanya handphone. Tren membawa handphone ini tentu tidak tiba-tiba muncul di kalangan siswa sekolah dasar. Tren ini muncul dengan dalih orang tua khawatir dengan anak-anaknya. Dengan memberikan anaknya handphone orangtua merasa tenang, karena merasa bisa menghubungi anknya kapan saja.
Orangtua belum menyadari tentang bahaya handphone yang bisa merusak karakter anaknya. Penggunaan handphone oleh anak yang belum memiliki pertimbangan yang baik tentang baik atau buruk tentu menjadi ancaman utama bagi anak. Anak-anak akan memiliki mainan yang bisa menjauhkan mereka dari teman-temannya. Mereka akan mersa lebih asyik bermain dengan hanphone daripada bermain ucing sumput dengan teman-temannya. Layaknya seorang yang menderita auitisme, anak-anak yang kecanduan handphone  memiliki dunia sendiri yang membuat komunikasi dengan teman-temannya terhambat. Lebih jauh lagi bahaya handphone yang paling mengkhawatirkan adalah akses informasi tanpa batas yang terdapat dalam handphone yang canggih. Dengan akses informasi tanpa batas ini anak-anak yang masih duduk di sekolah dasar tentu bisa mengakses berita-berita atau konten-konten yang belum pantas mereka konsumsi. Hal ini tentu akan berpengaruh pada kepribadian anak. Orangtua harusnya memikirkan tentang bahaya dari tren memberikan handphone kepada anak untuk alasan pengawasan.
Tren memberikan handphone kepada anak sekolah dasar bukanlah satu-satunya yang terjadi di dunia pendidikan Indonesia. Beberapa tren negatif yang mulai bermunculan adalah tren memberikan kendaraan bermotor kepada anak-anak sekolah dasar. Kelimpahan uang yang dimiliki orangtua telah menciptakan tren negatif yang membahayakan jiwa anak. Orangtua yang bertanggung jawab terhadap kehidupan anaknya tentu tidak akan membiarkan anak-anaknya celaka.
Tren membawa handphone dan kendaraan bermotor ini hanya beberapa contoh dari tren negatif yang terjadi di sekolah dasar. Masih ada beberapa tren negatif yang banyak dilakukan oleh para siswa sekolah dasar dan didukung oleh para orangtua.  
2.           Tidak Suka Proses
Salahsatu ciri dari generasi instan adalah kemalasan untuk berproses, tidak suka sesuatu yang melelahkan, hanya mau enak sendiri, ingin cepat selesai dan lain sebagainya. Modernisasi dengan kemewahan dan gemerlapnya bisa membutakan anak-anak sekolah dasar yang pada dasarnya masih suka perilaku orang dewasa. Di masa sekarang ini teknologi membuat segala sesuatu menjadi mudah didapatkan. Hal ini tentu berdampak pada kehidupan bermasyarakat yang secara tidak langsung ikut memengaruhi karakter anak-anak sekolah dasar. Terlihat dengan jelas betapa mulai berkurangnya jumlah anak-anak sekolah dasar di beberapa wilayah pedesaan yang mau membantu orangtuanya di sawah atau ladang untuk mencari penghidupan.
Kemalasan berproses ini membuat generasi bangsa yang tercipta adalah generasi yang gampang menyerah ketika menghadapi masalah. Mimpi-mimpi besar anak-anak yang duduk di bangku sekolah dasar pun terancam gagal, karena tidak biasa bekerja keras dan berproses dalam kehidupannya. Kemalasan dalam berproses ini tidak semata-mata disebakan oleh sifat malas anak SD. Lebih dari itu, kurangnya pertanyaan-pertanyaan reflektif dari guru menjadi faktor yang dapat menghambat siswa untuk berproses. Guru cenderung membiarkan siswanya dalam kemalasan berproses, padahal guru sebagai ujung tombak pendidikan memegang peranan yang sangat besar terhadap kehidupan siswanya di kemudian hari.
Fakta di sekolah berbicara banyak tentang pembiaran yang dilakukan guru ketika siswanya melakukan kecurangan dalam menyelesaikan tugasnya. Misalnya ketika siswa disuruh membuat sapu lidi untuk memenuhi tugas akhir matapelajaran muatan lokal. Ketika ada siswa yang mengumpulkan sapu lidi yang ia beli dari pasar, guru tidak menegur perbuatan siswa tersebut.
Tanpa adanya tindakan yang tepat dan sesegera mungkin. Karakter menghindari proses bisa menjadi bumerang bagi kehidupan siswa. Siswa yang terus-terusan menghindari proses tentu tidak dapat mencapai kesuksesan. Sebaiknya para guru di sekolah dasar mengajarkan makna “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Jika tidak generasi instan di sekolah dasar akan semakin berkembang dan kehancuran bangsa hanya tinggal menunngu waktu.
3.           Konsumtif
Seorang konsumen tugasnya hanya menikmati produk. Sifat konsumtif disini berkaitan dengan ketidaksukaan berproses. Kebiasaan menghambur-hamburkan uang, suka foya-foya, dan hanya bisa menjadi penonton adalah beberapa sikap yang biasa dilakukan oleh orang-orang konsumtif. Tanpa disadari di bangku sekolah dasar sikap konsumtif ini telah diperkenalkan kepada anak-anak. Tanyakan saja kepada anak sekolah dasar yang berasal dari keluarga menengah ke atas berapa uang saku yang diterima olehnya setiap hari.  Uang dengan nominal lima ribu rupiah sudah tersedia di kantong baju atau celana anak-anak sekolah dasar saat ini.
Beberapa karakter konsumtif ini bahkan diwariskan oleh orangtuanya. Betapa tidak beberapa orangtua siswa yang malas memasak dan lebih mempercayakan anak membawa uang jajan lebih daripada harus menyiapkan bekal bagi anaknya. Betapapun hal ini praktis dan ekonomis, namun secara tidak langsung orangtua mengajarkan kepada anaknya yang masih memakai seragam SD bahwa segalanya bisa dibeli selama uang ada di tangan.
Salahsatu hal yang paling merugikan dari sifat konsumtif ini adalah hilangnya kreatifitas anak-anak. Kebiasaan membeli dan mengkonsumsi tanpa berproses membuat siswa merasa malas dan tidak kreatif. Pikiran kreatif yang ada dalam diri setiap anak akan terhambat dengan sikap konsumtif, padahal pemikiran kratif ini merupakan sesuatu yang sangat mahal. Misalnya saja ide kreatif kaleng produk coca cola yang dibuat dengan penutup yang bisa dibuka dengan sebuah tarikan. Sekilas ide kreatif tersebut seperti tidak seberapa, namun keuntungan dari ide tersebut bisa mencapai jutaan dolar setiap tahunnya. Bahkan Bapak Maulana, selaku dosen berprestasi di universitas pendidikan indonesia mengatakan bahwa “kreatifitas itu sesuatu yang sangat mahal, karena sangat mahal maka hanya sedikit orang yang mampu membelinya”. Bagi beliau siswa yang berada dalam lingkungan yang konsumtif terancam kehilangan kreatifitasnya. Karena kreatifitas muncul seiring dengan keinginan untuk membuat sesuatu walau dengan keadaan yang serba kekurangan. Sikap tersebut sanagat bertolakbelakang dengan sikap konsumtif yang selalu berpikir semuanya bisa dibeli dengan uang.
4.           Mengagungkan Hedonisme
Faham hedonisme adalah aliran yang menganggap kesenangan ragawi sebagai tujuan hidup yang utama. Dengan kata lain hedonisme ini adalah suatu keyakinan bahwa dengan kekayaan seseorang bisa melakukan apapun sesuai dengan kehendaknya. Karakter mencintai harta sesungguhnya telah ditanamkan kepada anak-anak sekolah dasar ketika mereka masih kecil. Kerapkali terdengar orangtua mengatakan kepada anaknya “nak kamu sekolah yang tinggi, biar jadi dokter dan banyak uangnya”. Secara tidak langsung orangtua mengajarkan kepada anak bahwa dengan uang yang banyak kehidupan akan menjadi lebih mudah dan lebih indah.
Suburnya sikap hedonisme ini didukung dengan minimnya bekal spiritual kepada anak-anak. Waktu anak-anak untuk bermain playstation atau permainan daring (game online) yang merupakan salahsatu permainan yang kurang baik jauh lebih lama dibandingkan dengan waktu mengaji. Jika anak-anak mengaji selama satu jam dalam sehari, maka bukan tidak mungkin orangtua membiarkan anak-anaknya bermain di rental playstation selama berjam-jam lamanya. Merasa anaknya bebas, karena anaknya betah dengan mainannya orangtua yang tidak bertanggungjawab tentu akan merasa senang. Padahal perkembangan mental anaknya sedang terancam.
Permainan daring dan playsation merupakan Permainan-permainan modern yang membutuhkan uang yang lumayan banyak untuk dinikmati, karena itu anak-anak dengan uang saku yang banyak biasanya memiliki teman yang banyak. Sementara itu, anak-anak yang berasal dar keluarga yang kere dikucilkan oleh teman-temannya. Pertemanan yang terjalin diantara anak-anak sekolah dasar pun terpengaruh oleh uang.
Kecintaan kepada uang ini tentu akan mengikis ketulusan anak dalam beteman. Anak-anak hanya mau berteman dengan anak yang berasal dari keluarga kaya. Bahkan hal yang paling mengkhawatirkan adalah terciptanya sistem kasta dalam kehidupan anak-anak sekolah dasar. Bagaimana jadinya jika anak-anak yang berasal dari keluarga berada tidak mau berteman dengan anak-anak dari keluarga yang kurang mampu. Hal tersebut tentu akan menimbulkan masalah yang serius yaitu berupa hubungan tidak harmonis dalam pertemanan antara si kaya dan si miskin. Selain beberapa kerugian yang telah dipaparkan di atas faham hedonisme ini memiliki banyak mudarat bagi kehidupan anak-anak sekolah dasar di hari esok. 
5.           Egoisme Merajalela
Sikap mementingkan kepentingan pribadi di atas segalanya merupakan sikap yang kurag baik. seseorang yang egois biasanya hanya memburu kesenangan pribadi tanpa memikirkan kepentingan orang lain, lebih jauh lagi bahkan demi tercapainya harapan pribadi seseorang bisa mengorbankan kepentingan oarang lain. sikap egoisme di kalangan siswa sekolah dasar pada saat ini masih berada pada tahapan yang wajar. Namun, bukan berarti para pendidik terutama guru-guru harus berleha-leha. Egoisme yang patut diperhatikan di lingkungan sekolah dasar adalah egoisme dari para pendidik. Hal ini terlihat dari sikap guru di sekolah dasar. Dengan gaya yang meyakinkan para guru berkata kepada siswa-siswanya “Anak-anak kalian harus belajar yang rajin ya, biar pinter”.   Sementara itu, guru yang bersangkutan sudah berhenti belajar. Guru tersebut hanya mengajarkan apa yang diperolehnya di bangku pendidikan puluhan tahun yang lalu. Menyuruh orang lain untuk melakukan sesuatu yang tidak dilakukan, bukankah itu sikap yang egois. Mengutip perkataan Bapak Maulana “Guru yang berhenti belajar harus berhenti mengajar”. Dari perkataan Bapak Maulana ini sangat jelas bahwa perbuatan egoisme guru mengenai belajar ini bukan merupakan sifat yang baik dan tidak pantas ditiru.
Bedasarkan lima indikator generasi berkarakter instan yang tersebut di atas. Dapat disimpulkan bahwa generasi muda di Indonesia, khususnya para pelajar di sekolah dasar telah terjangkit beberapa penyakit karakter instan yang merugikan. Bahkan bukan hanya siswa yang terjangkit dengan penyakit karakter instan ini, beberapa guru tidak bertanggung jawab ikut serta menularkan karakter kurang baik kepada siswanya. Jika hal seperti ini terus dibiarkan, maka generasi muda Indonesia akan terancam hancur.

Ditulis oleh Asep Nanang
Referensi
Asmani, Jamal Ma’mur. (2011). Pendidikan karakter di sekolah. Jogjakarta: DIVA Press
Diskusi dengan Bapak Maulana, M.Pd.
Diskusi di salahsatu televisi swasta.


Monday, December 7, 2015

PTK APAAN SICH?


PTK merupakan kata yang lekat di telinga mahasiswa tingkat akhir, terutama yang tergabung dalam jurusan pendidikan. “Kata” PTK memang terdengar sangat menyeramkan bagi sebagian besar mahasiswa tingkat akhir di berbagai LPTK, betapa tidak “kata” PTK tentu akan mengingatkan mahasiswa tingkat akhir pada tugas akhirnya. Lalu apa sih makna dari PTK?
Perasaan Tidak Karuan?
Bagi Anda yang berpikiran begitu, berarti Anda sedang galau. Entah galau karena gak punya pacar, atau galau karena punya banyak tugas. Daripada galau gak jelas mending kita berdiskusi tentang PTK. Oke, kita mulai serius deh PTK adalah singkatan dari penelitian tindakan kelas. Untuk mencari definisi dari PTK mari kita rinci kata per kata untuk menjelaskan apa itu PTK, berikut penjelasannya.

Penelitian (Research)
Kegiatan untuk mencari dan memperoleh kebenaran melalui metode ilmiah.
Tindakan (Action)
Pelaksanaan yang dibutuhkan segera/mendesak.
Kelas (Classroom)
Dilaksanakan di dalam kelas, untuk memperbaiki praktik pembelajaran

PTK adalah suatu metode penelitian untuk mengatasi masalah-masalah pembelajaran (pendidikan) yang cukup familiar di negara-negara maju maupun berkembang. PTK mampu menawarkan cara dan prosedur baru untuk memperbaiki dan meningkatkan profesionalisme guru dalam pembelajaran di kelas dengan melihat berbagai indikator keberhasilan proses dan hasil pembelajaran yang terjadi pada guru dan siswa. Lebih jauh lagi kita lihat definisi PTK menurut para ahli.
Rapoport, dalam Hopkins, 1993
Suatu metode penelitian yang berguna untuk membantu seseorang mengatasi permasalahan-permasalahan praktik pembelajaran dalam situasi darurat/mendesak, dan biasanya dilakukan secara kolaboratif dengan etika yang disepakati bersama.

Kemmis, 1983
Suatu penelitian yang bersifat inkuiri-reflektif yang dilakukan secara kemitraan untuk meningkatkan kualitas praktik sosial atau pendidikan.
Ebbut, dalam Hopkins, 1993
Kajian sistematik dari upaya perbaikan pelaksanaan praktik pendidikan oleh sekelompok guru dengan melakukan tindakan-tindakan dalam pembelajaran, berdasarkan refleksi mengenai tindakan-tindakan tersebut.
McNiff, 1992
Penelitian reflektif yang dilakukan oleh guru sendiri yang hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk mengembangkan kurikulum, sekolah, keahlian mengajar, dam sebagainya.