
Perkembangan jaman telah memberikan dampak yang begitu besar terhadap kehidupan bermasyarakat. Fasilitas yang serba mewah dan lengkap tentu dapat dinikmati oleh beberapa masyarakat yang berasal dari kalangan menengah ke atas. Keadaan yang serba berkecukupan ini telah menjerumuskan generasi muda indonesia kedalam keadaan yang serba instan dan cepat. Karakteristik masyarakat yang sangat gila terhadap sesuatu yang instan ini menjadi ancaman yang menakutkan bagi generasi muda indonesia, terutama bagi anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Generasi berkarakter instan mulai tumbuh dalam kehidupan bermasyarakat, bahkan pertumbuhannya begitu didukung oleh keadaan di lingkungan masyarakat dan lingkungan sekolah siswa sekolah dasar. Keadaan yang mengkhawatirkan ini tentu membutuhkan penyelesaian sesegera mungkin dari berbagai pihak, terutama para pendidik.
Kata kunci: generasi berkarakter
instan, karakter instan
A.
Generasi Berkarakter
Instan
Generasi
berkarakter instan adalah generasi bangsa yang memiliki karakter yang mengagungkan
proses yang cepat dan mudah dibandingkan dengan proses bekerja keras dengan
usaha yang jujur. Generasi instan ini cenderung mengambil jalan pintas dalam
menghadapi masalah dalam hidupnya. Faktor kemalasan dan biasa dimanjakan dengan
fasilitas mewah yang tersedia dengan mudah tentu menjadi penyebab utama
munculnya generasi berkarakter instan ini. Lalu, seperti apa generasi
berkarakter instan itu? Untuk memahami generasi berkarakter instan diperlukan
beberapa indikator untuk mengetahui sebuah generasi dikatakan berkarakter
instan atau tidak. Menurut Jamal Ma’mur Asmani, ada lima indikator generasi
berkarakter instan. Adapun kelima indikator tersebut adalah sebagai berikut
ini.
1.
Suka Memburu Tren
Negatif
Tren yang
dimaksud disini adalah kecenderungan untuk mengikuti hal-hal terbaru yang
sedang banyak dilakukan atau dipakai oleh masyarakat umum. Dalam mengikuti tren
yang ada di Sekolah Dasar terkadang dilakukan dengan membabi buta. Terkadang
tren yang berkembang di Sekolah Dasar tidak hanya tren yang positf. Beberapa
tren negatif bahkan berkembang di lingkungan sekolah, bahkan orangtua pun ikut
ambil bagian dalam pemburuan tren negatif ini.
Salahsatu tren
negatif yang paling banyak terjadi di
lingkungan sekolah dasar adalah tren membawa handphone ke sekolah. Siswa sekolah dasar yang seharusnya bermain
dengan melibatkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor bersama
teman-temannya, kini terbelenggu dengan adanya handphone. Tren membawa handphone
ini tentu tidak tiba-tiba muncul di kalangan siswa sekolah dasar. Tren ini
muncul dengan dalih orang tua khawatir dengan anak-anaknya. Dengan memberikan
anaknya handphone orangtua merasa
tenang, karena merasa bisa menghubungi anknya kapan saja.
Orangtua belum
menyadari tentang bahaya handphone yang
bisa merusak karakter anaknya. Penggunaan handphone
oleh anak yang belum memiliki pertimbangan yang baik tentang baik atau
buruk tentu menjadi ancaman utama bagi anak. Anak-anak akan memiliki mainan
yang bisa menjauhkan mereka dari teman-temannya. Mereka akan mersa lebih asyik
bermain dengan hanphone daripada
bermain ucing sumput dengan
teman-temannya. Layaknya seorang yang menderita auitisme, anak-anak yang
kecanduan handphone memiliki dunia sendiri yang membuat komunikasi
dengan teman-temannya terhambat. Lebih jauh lagi bahaya handphone yang paling mengkhawatirkan adalah akses informasi tanpa
batas yang terdapat dalam handphone yang
canggih. Dengan akses informasi tanpa batas ini anak-anak yang masih duduk di
sekolah dasar tentu bisa mengakses berita-berita atau konten-konten yang belum
pantas mereka konsumsi. Hal ini tentu akan berpengaruh pada kepribadian anak.
Orangtua harusnya memikirkan tentang bahaya dari tren memberikan handphone kepada anak untuk alasan
pengawasan.
Tren memberikan handphone kepada anak sekolah dasar
bukanlah satu-satunya yang terjadi di dunia pendidikan Indonesia. Beberapa tren
negatif yang mulai bermunculan adalah tren memberikan kendaraan bermotor kepada
anak-anak sekolah dasar. Kelimpahan uang yang dimiliki orangtua telah
menciptakan tren negatif yang membahayakan jiwa anak. Orangtua yang bertanggung
jawab terhadap kehidupan anaknya tentu tidak akan membiarkan anak-anaknya
celaka.
Tren membawa handphone dan kendaraan bermotor ini
hanya beberapa contoh dari tren negatif yang terjadi di sekolah dasar. Masih
ada beberapa tren negatif yang banyak dilakukan oleh para siswa sekolah dasar
dan didukung oleh para orangtua.
2.
Tidak Suka Proses
Salahsatu ciri
dari generasi instan adalah kemalasan untuk berproses, tidak suka sesuatu yang
melelahkan, hanya mau enak sendiri, ingin cepat selesai dan lain sebagainya.
Modernisasi dengan kemewahan dan gemerlapnya bisa membutakan anak-anak sekolah
dasar yang pada dasarnya masih suka perilaku orang dewasa. Di masa sekarang ini
teknologi membuat segala sesuatu menjadi mudah didapatkan. Hal ini tentu
berdampak pada kehidupan bermasyarakat yang secara tidak langsung ikut
memengaruhi karakter anak-anak sekolah dasar. Terlihat dengan jelas betapa
mulai berkurangnya jumlah anak-anak sekolah dasar di beberapa wilayah pedesaan
yang mau membantu orangtuanya di sawah atau ladang untuk mencari penghidupan.
Kemalasan
berproses ini membuat generasi bangsa yang tercipta adalah generasi yang
gampang menyerah ketika menghadapi masalah. Mimpi-mimpi besar anak-anak yang
duduk di bangku sekolah dasar pun terancam gagal, karena tidak biasa bekerja
keras dan berproses dalam kehidupannya. Kemalasan dalam berproses ini tidak
semata-mata disebakan oleh sifat malas anak SD. Lebih dari itu, kurangnya
pertanyaan-pertanyaan reflektif dari guru menjadi faktor yang dapat menghambat
siswa untuk berproses. Guru cenderung membiarkan siswanya dalam kemalasan
berproses, padahal guru sebagai ujung tombak pendidikan memegang peranan yang
sangat besar terhadap kehidupan siswanya di kemudian hari.
Fakta di sekolah
berbicara banyak tentang pembiaran yang dilakukan guru ketika siswanya
melakukan kecurangan dalam menyelesaikan tugasnya. Misalnya ketika siswa
disuruh membuat sapu lidi untuk memenuhi tugas akhir matapelajaran muatan lokal.
Ketika ada siswa yang mengumpulkan sapu lidi yang ia beli dari pasar, guru
tidak menegur perbuatan siswa tersebut.
Tanpa adanya
tindakan yang tepat dan sesegera mungkin. Karakter menghindari proses bisa
menjadi bumerang bagi kehidupan siswa. Siswa yang terus-terusan menghindari
proses tentu tidak dapat mencapai kesuksesan. Sebaiknya para guru di sekolah
dasar mengajarkan makna “bersakit-sakit
dahulu, bersenang-senang kemudian”. Jika tidak generasi instan di sekolah
dasar akan semakin berkembang dan kehancuran bangsa hanya tinggal menunngu
waktu.
3.
Konsumtif
Seorang konsumen
tugasnya hanya menikmati produk. Sifat konsumtif disini berkaitan dengan
ketidaksukaan berproses. Kebiasaan menghambur-hamburkan uang, suka foya-foya,
dan hanya bisa menjadi penonton adalah beberapa sikap yang biasa dilakukan oleh
orang-orang konsumtif. Tanpa disadari di bangku sekolah dasar sikap konsumtif
ini telah diperkenalkan kepada anak-anak. Tanyakan saja kepada anak sekolah
dasar yang berasal dari keluarga menengah ke atas berapa uang saku yang
diterima olehnya setiap hari. Uang
dengan nominal lima ribu rupiah sudah tersedia di kantong baju atau celana
anak-anak sekolah dasar saat ini.
Beberapa
karakter konsumtif ini bahkan diwariskan oleh orangtuanya. Betapa tidak
beberapa orangtua siswa yang malas memasak dan lebih mempercayakan anak membawa
uang jajan lebih daripada harus menyiapkan bekal bagi anaknya. Betapapun hal
ini praktis dan ekonomis, namun secara tidak langsung orangtua mengajarkan
kepada anaknya yang masih memakai seragam SD bahwa segalanya bisa dibeli selama
uang ada di tangan.
Salahsatu hal
yang paling merugikan dari sifat konsumtif ini adalah hilangnya kreatifitas
anak-anak. Kebiasaan membeli dan mengkonsumsi tanpa berproses membuat siswa
merasa malas dan tidak kreatif. Pikiran kreatif yang ada dalam diri setiap anak
akan terhambat dengan sikap konsumtif, padahal pemikiran kratif ini merupakan
sesuatu yang sangat mahal. Misalnya saja ide kreatif kaleng produk coca cola yang dibuat dengan penutup
yang bisa dibuka dengan sebuah tarikan. Sekilas ide kreatif tersebut seperti
tidak seberapa, namun keuntungan dari ide tersebut bisa mencapai jutaan dolar
setiap tahunnya. Bahkan Bapak Maulana, selaku dosen berprestasi di universitas
pendidikan indonesia mengatakan bahwa “kreatifitas itu sesuatu yang sangat
mahal, karena sangat mahal maka hanya sedikit orang yang mampu membelinya”.
Bagi beliau siswa yang berada dalam lingkungan yang konsumtif terancam
kehilangan kreatifitasnya. Karena kreatifitas muncul seiring dengan keinginan
untuk membuat sesuatu walau dengan keadaan yang serba kekurangan. Sikap
tersebut sanagat bertolakbelakang dengan sikap konsumtif yang selalu berpikir
semuanya bisa dibeli dengan uang.
4.
Mengagungkan Hedonisme
Faham hedonisme
adalah aliran yang menganggap kesenangan ragawi sebagai tujuan hidup yang
utama. Dengan kata lain hedonisme ini adalah suatu keyakinan bahwa dengan
kekayaan seseorang bisa melakukan apapun sesuai dengan kehendaknya. Karakter
mencintai harta sesungguhnya telah ditanamkan kepada anak-anak sekolah dasar
ketika mereka masih kecil. Kerapkali terdengar orangtua mengatakan kepada
anaknya “nak kamu sekolah yang tinggi, biar jadi dokter dan banyak uangnya”.
Secara tidak langsung orangtua mengajarkan kepada anak bahwa dengan uang yang
banyak kehidupan akan menjadi lebih mudah dan lebih indah.
Suburnya sikap hedonisme
ini didukung dengan minimnya bekal spiritual kepada anak-anak. Waktu anak-anak
untuk bermain playstation atau
permainan daring (game online) yang merupakan salahsatu permainan yang
kurang baik jauh lebih lama dibandingkan dengan waktu mengaji. Jika anak-anak
mengaji selama satu jam dalam sehari, maka bukan tidak mungkin orangtua
membiarkan anak-anaknya bermain di rental playstation
selama berjam-jam lamanya. Merasa anaknya bebas, karena anaknya betah
dengan mainannya orangtua yang tidak bertanggungjawab tentu akan merasa senang.
Padahal perkembangan mental anaknya sedang terancam.
Permainan daring
dan playsation merupakan Permainan-permainan modern yang
membutuhkan uang yang lumayan banyak untuk dinikmati, karena itu anak-anak
dengan uang saku yang banyak biasanya memiliki teman yang banyak. Sementara
itu, anak-anak yang berasal dar keluarga yang kere dikucilkan oleh teman-temannya. Pertemanan yang terjalin
diantara anak-anak sekolah dasar pun terpengaruh oleh uang.
Kecintaan kepada
uang ini tentu akan mengikis ketulusan anak dalam beteman. Anak-anak hanya mau
berteman dengan anak yang berasal dari keluarga kaya. Bahkan hal yang paling
mengkhawatirkan adalah terciptanya sistem kasta dalam kehidupan anak-anak
sekolah dasar. Bagaimana jadinya jika anak-anak yang berasal dari keluarga
berada tidak mau berteman dengan anak-anak dari keluarga yang kurang mampu. Hal
tersebut tentu akan menimbulkan masalah yang serius yaitu berupa hubungan tidak
harmonis dalam pertemanan antara si kaya dan si miskin. Selain beberapa
kerugian yang telah dipaparkan di atas faham hedonisme ini memiliki banyak
mudarat bagi kehidupan anak-anak sekolah dasar di hari esok.
5.
Egoisme Merajalela
Sikap
mementingkan kepentingan pribadi di atas segalanya merupakan sikap yang kurag
baik. seseorang yang egois biasanya hanya memburu kesenangan pribadi tanpa
memikirkan kepentingan orang lain, lebih jauh lagi bahkan demi tercapainya
harapan pribadi seseorang bisa mengorbankan kepentingan oarang lain. sikap egoisme
di kalangan siswa sekolah dasar pada saat ini masih berada pada tahapan yang
wajar. Namun, bukan berarti para pendidik terutama guru-guru harus
berleha-leha. Egoisme yang patut diperhatikan di lingkungan sekolah dasar
adalah egoisme dari para pendidik. Hal ini terlihat dari sikap guru di sekolah
dasar. Dengan gaya yang meyakinkan para guru berkata kepada siswa-siswanya
“Anak-anak kalian harus belajar yang rajin ya, biar pinter”. Sementara
itu, guru yang bersangkutan sudah berhenti belajar. Guru tersebut hanya
mengajarkan apa yang diperolehnya di bangku pendidikan puluhan tahun yang lalu.
Menyuruh orang lain untuk melakukan sesuatu yang tidak dilakukan, bukankah itu
sikap yang egois. Mengutip perkataan Bapak Maulana “Guru yang berhenti belajar
harus berhenti mengajar”. Dari perkataan Bapak Maulana ini sangat jelas bahwa
perbuatan egoisme guru mengenai belajar ini bukan merupakan sifat yang baik dan
tidak pantas ditiru.
Bedasarkan lima
indikator generasi berkarakter instan yang tersebut di atas. Dapat disimpulkan
bahwa generasi muda di Indonesia, khususnya para pelajar di sekolah dasar telah
terjangkit beberapa penyakit karakter instan yang merugikan. Bahkan bukan hanya
siswa yang terjangkit dengan penyakit karakter instan ini, beberapa guru tidak
bertanggung jawab ikut serta menularkan karakter kurang baik kepada siswanya.
Jika hal seperti ini terus dibiarkan, maka generasi muda Indonesia akan
terancam hancur.
Ditulis oleh Asep Nanang
Referensi
Asmani,
Jamal Ma’mur. (2011). Pendidikan karakter
di sekolah. Jogjakarta: DIVA Press
Diskusi dengan
Bapak Maulana, M.Pd.
Diskusi di
salahsatu televisi swasta.
0 komentar:
Post a Comment