Tuesday, December 8, 2015

Generasi Karakter Instan

Share

Perkembangan jaman telah memberikan dampak yang begitu besar terhadap kehidupan bermasyarakat. Fasilitas yang serba mewah dan lengkap tentu dapat dinikmati oleh beberapa masyarakat yang berasal dari kalangan menengah ke atas. Keadaan yang serba berkecukupan ini telah menjerumuskan generasi muda indonesia kedalam keadaan yang serba instan dan cepat. Karakteristik masyarakat yang sangat gila terhadap sesuatu yang instan ini menjadi ancaman yang menakutkan bagi generasi muda indonesia, terutama bagi anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Generasi berkarakter instan mulai tumbuh dalam kehidupan bermasyarakat, bahkan pertumbuhannya begitu didukung oleh keadaan di lingkungan masyarakat dan lingkungan sekolah siswa sekolah dasar. Keadaan yang mengkhawatirkan ini tentu membutuhkan penyelesaian sesegera mungkin dari berbagai pihak, terutama para pendidik.
Kata kunci: generasi berkarakter instan, karakter instan
A.         Generasi Berkarakter Instan
Generasi berkarakter instan adalah generasi bangsa yang memiliki karakter yang mengagungkan proses yang cepat dan mudah dibandingkan dengan proses bekerja keras dengan usaha yang jujur. Generasi instan ini cenderung mengambil jalan pintas dalam menghadapi masalah dalam hidupnya. Faktor kemalasan dan biasa dimanjakan dengan fasilitas mewah yang tersedia dengan mudah tentu menjadi penyebab utama munculnya generasi berkarakter instan ini. Lalu, seperti apa generasi berkarakter instan itu? Untuk memahami generasi berkarakter instan diperlukan beberapa indikator untuk mengetahui sebuah generasi dikatakan berkarakter instan atau tidak. Menurut Jamal Ma’mur Asmani, ada lima indikator generasi berkarakter instan. Adapun kelima indikator tersebut adalah sebagai berikut ini.
1.           Suka Memburu Tren Negatif
Tren yang dimaksud disini adalah kecenderungan untuk mengikuti hal-hal terbaru yang sedang banyak dilakukan atau dipakai oleh masyarakat umum. Dalam mengikuti tren yang ada di Sekolah Dasar terkadang dilakukan dengan membabi buta. Terkadang tren yang berkembang di Sekolah Dasar tidak hanya tren yang positf. Beberapa tren negatif bahkan berkembang di lingkungan sekolah, bahkan orangtua pun ikut ambil bagian dalam pemburuan tren negatif ini.
Salahsatu tren negatif yang paling  banyak terjadi di lingkungan sekolah dasar adalah tren membawa handphone ke sekolah. Siswa sekolah dasar yang seharusnya bermain dengan melibatkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor bersama teman-temannya, kini terbelenggu dengan adanya handphone. Tren membawa handphone ini tentu tidak tiba-tiba muncul di kalangan siswa sekolah dasar. Tren ini muncul dengan dalih orang tua khawatir dengan anak-anaknya. Dengan memberikan anaknya handphone orangtua merasa tenang, karena merasa bisa menghubungi anknya kapan saja.
Orangtua belum menyadari tentang bahaya handphone yang bisa merusak karakter anaknya. Penggunaan handphone oleh anak yang belum memiliki pertimbangan yang baik tentang baik atau buruk tentu menjadi ancaman utama bagi anak. Anak-anak akan memiliki mainan yang bisa menjauhkan mereka dari teman-temannya. Mereka akan mersa lebih asyik bermain dengan hanphone daripada bermain ucing sumput dengan teman-temannya. Layaknya seorang yang menderita auitisme, anak-anak yang kecanduan handphone  memiliki dunia sendiri yang membuat komunikasi dengan teman-temannya terhambat. Lebih jauh lagi bahaya handphone yang paling mengkhawatirkan adalah akses informasi tanpa batas yang terdapat dalam handphone yang canggih. Dengan akses informasi tanpa batas ini anak-anak yang masih duduk di sekolah dasar tentu bisa mengakses berita-berita atau konten-konten yang belum pantas mereka konsumsi. Hal ini tentu akan berpengaruh pada kepribadian anak. Orangtua harusnya memikirkan tentang bahaya dari tren memberikan handphone kepada anak untuk alasan pengawasan.
Tren memberikan handphone kepada anak sekolah dasar bukanlah satu-satunya yang terjadi di dunia pendidikan Indonesia. Beberapa tren negatif yang mulai bermunculan adalah tren memberikan kendaraan bermotor kepada anak-anak sekolah dasar. Kelimpahan uang yang dimiliki orangtua telah menciptakan tren negatif yang membahayakan jiwa anak. Orangtua yang bertanggung jawab terhadap kehidupan anaknya tentu tidak akan membiarkan anak-anaknya celaka.
Tren membawa handphone dan kendaraan bermotor ini hanya beberapa contoh dari tren negatif yang terjadi di sekolah dasar. Masih ada beberapa tren negatif yang banyak dilakukan oleh para siswa sekolah dasar dan didukung oleh para orangtua.  
2.           Tidak Suka Proses
Salahsatu ciri dari generasi instan adalah kemalasan untuk berproses, tidak suka sesuatu yang melelahkan, hanya mau enak sendiri, ingin cepat selesai dan lain sebagainya. Modernisasi dengan kemewahan dan gemerlapnya bisa membutakan anak-anak sekolah dasar yang pada dasarnya masih suka perilaku orang dewasa. Di masa sekarang ini teknologi membuat segala sesuatu menjadi mudah didapatkan. Hal ini tentu berdampak pada kehidupan bermasyarakat yang secara tidak langsung ikut memengaruhi karakter anak-anak sekolah dasar. Terlihat dengan jelas betapa mulai berkurangnya jumlah anak-anak sekolah dasar di beberapa wilayah pedesaan yang mau membantu orangtuanya di sawah atau ladang untuk mencari penghidupan.
Kemalasan berproses ini membuat generasi bangsa yang tercipta adalah generasi yang gampang menyerah ketika menghadapi masalah. Mimpi-mimpi besar anak-anak yang duduk di bangku sekolah dasar pun terancam gagal, karena tidak biasa bekerja keras dan berproses dalam kehidupannya. Kemalasan dalam berproses ini tidak semata-mata disebakan oleh sifat malas anak SD. Lebih dari itu, kurangnya pertanyaan-pertanyaan reflektif dari guru menjadi faktor yang dapat menghambat siswa untuk berproses. Guru cenderung membiarkan siswanya dalam kemalasan berproses, padahal guru sebagai ujung tombak pendidikan memegang peranan yang sangat besar terhadap kehidupan siswanya di kemudian hari.
Fakta di sekolah berbicara banyak tentang pembiaran yang dilakukan guru ketika siswanya melakukan kecurangan dalam menyelesaikan tugasnya. Misalnya ketika siswa disuruh membuat sapu lidi untuk memenuhi tugas akhir matapelajaran muatan lokal. Ketika ada siswa yang mengumpulkan sapu lidi yang ia beli dari pasar, guru tidak menegur perbuatan siswa tersebut.
Tanpa adanya tindakan yang tepat dan sesegera mungkin. Karakter menghindari proses bisa menjadi bumerang bagi kehidupan siswa. Siswa yang terus-terusan menghindari proses tentu tidak dapat mencapai kesuksesan. Sebaiknya para guru di sekolah dasar mengajarkan makna “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Jika tidak generasi instan di sekolah dasar akan semakin berkembang dan kehancuran bangsa hanya tinggal menunngu waktu.
3.           Konsumtif
Seorang konsumen tugasnya hanya menikmati produk. Sifat konsumtif disini berkaitan dengan ketidaksukaan berproses. Kebiasaan menghambur-hamburkan uang, suka foya-foya, dan hanya bisa menjadi penonton adalah beberapa sikap yang biasa dilakukan oleh orang-orang konsumtif. Tanpa disadari di bangku sekolah dasar sikap konsumtif ini telah diperkenalkan kepada anak-anak. Tanyakan saja kepada anak sekolah dasar yang berasal dari keluarga menengah ke atas berapa uang saku yang diterima olehnya setiap hari.  Uang dengan nominal lima ribu rupiah sudah tersedia di kantong baju atau celana anak-anak sekolah dasar saat ini.
Beberapa karakter konsumtif ini bahkan diwariskan oleh orangtuanya. Betapa tidak beberapa orangtua siswa yang malas memasak dan lebih mempercayakan anak membawa uang jajan lebih daripada harus menyiapkan bekal bagi anaknya. Betapapun hal ini praktis dan ekonomis, namun secara tidak langsung orangtua mengajarkan kepada anaknya yang masih memakai seragam SD bahwa segalanya bisa dibeli selama uang ada di tangan.
Salahsatu hal yang paling merugikan dari sifat konsumtif ini adalah hilangnya kreatifitas anak-anak. Kebiasaan membeli dan mengkonsumsi tanpa berproses membuat siswa merasa malas dan tidak kreatif. Pikiran kreatif yang ada dalam diri setiap anak akan terhambat dengan sikap konsumtif, padahal pemikiran kratif ini merupakan sesuatu yang sangat mahal. Misalnya saja ide kreatif kaleng produk coca cola yang dibuat dengan penutup yang bisa dibuka dengan sebuah tarikan. Sekilas ide kreatif tersebut seperti tidak seberapa, namun keuntungan dari ide tersebut bisa mencapai jutaan dolar setiap tahunnya. Bahkan Bapak Maulana, selaku dosen berprestasi di universitas pendidikan indonesia mengatakan bahwa “kreatifitas itu sesuatu yang sangat mahal, karena sangat mahal maka hanya sedikit orang yang mampu membelinya”. Bagi beliau siswa yang berada dalam lingkungan yang konsumtif terancam kehilangan kreatifitasnya. Karena kreatifitas muncul seiring dengan keinginan untuk membuat sesuatu walau dengan keadaan yang serba kekurangan. Sikap tersebut sanagat bertolakbelakang dengan sikap konsumtif yang selalu berpikir semuanya bisa dibeli dengan uang.
4.           Mengagungkan Hedonisme
Faham hedonisme adalah aliran yang menganggap kesenangan ragawi sebagai tujuan hidup yang utama. Dengan kata lain hedonisme ini adalah suatu keyakinan bahwa dengan kekayaan seseorang bisa melakukan apapun sesuai dengan kehendaknya. Karakter mencintai harta sesungguhnya telah ditanamkan kepada anak-anak sekolah dasar ketika mereka masih kecil. Kerapkali terdengar orangtua mengatakan kepada anaknya “nak kamu sekolah yang tinggi, biar jadi dokter dan banyak uangnya”. Secara tidak langsung orangtua mengajarkan kepada anak bahwa dengan uang yang banyak kehidupan akan menjadi lebih mudah dan lebih indah.
Suburnya sikap hedonisme ini didukung dengan minimnya bekal spiritual kepada anak-anak. Waktu anak-anak untuk bermain playstation atau permainan daring (game online) yang merupakan salahsatu permainan yang kurang baik jauh lebih lama dibandingkan dengan waktu mengaji. Jika anak-anak mengaji selama satu jam dalam sehari, maka bukan tidak mungkin orangtua membiarkan anak-anaknya bermain di rental playstation selama berjam-jam lamanya. Merasa anaknya bebas, karena anaknya betah dengan mainannya orangtua yang tidak bertanggungjawab tentu akan merasa senang. Padahal perkembangan mental anaknya sedang terancam.
Permainan daring dan playsation merupakan Permainan-permainan modern yang membutuhkan uang yang lumayan banyak untuk dinikmati, karena itu anak-anak dengan uang saku yang banyak biasanya memiliki teman yang banyak. Sementara itu, anak-anak yang berasal dar keluarga yang kere dikucilkan oleh teman-temannya. Pertemanan yang terjalin diantara anak-anak sekolah dasar pun terpengaruh oleh uang.
Kecintaan kepada uang ini tentu akan mengikis ketulusan anak dalam beteman. Anak-anak hanya mau berteman dengan anak yang berasal dari keluarga kaya. Bahkan hal yang paling mengkhawatirkan adalah terciptanya sistem kasta dalam kehidupan anak-anak sekolah dasar. Bagaimana jadinya jika anak-anak yang berasal dari keluarga berada tidak mau berteman dengan anak-anak dari keluarga yang kurang mampu. Hal tersebut tentu akan menimbulkan masalah yang serius yaitu berupa hubungan tidak harmonis dalam pertemanan antara si kaya dan si miskin. Selain beberapa kerugian yang telah dipaparkan di atas faham hedonisme ini memiliki banyak mudarat bagi kehidupan anak-anak sekolah dasar di hari esok. 
5.           Egoisme Merajalela
Sikap mementingkan kepentingan pribadi di atas segalanya merupakan sikap yang kurag baik. seseorang yang egois biasanya hanya memburu kesenangan pribadi tanpa memikirkan kepentingan orang lain, lebih jauh lagi bahkan demi tercapainya harapan pribadi seseorang bisa mengorbankan kepentingan oarang lain. sikap egoisme di kalangan siswa sekolah dasar pada saat ini masih berada pada tahapan yang wajar. Namun, bukan berarti para pendidik terutama guru-guru harus berleha-leha. Egoisme yang patut diperhatikan di lingkungan sekolah dasar adalah egoisme dari para pendidik. Hal ini terlihat dari sikap guru di sekolah dasar. Dengan gaya yang meyakinkan para guru berkata kepada siswa-siswanya “Anak-anak kalian harus belajar yang rajin ya, biar pinter”.   Sementara itu, guru yang bersangkutan sudah berhenti belajar. Guru tersebut hanya mengajarkan apa yang diperolehnya di bangku pendidikan puluhan tahun yang lalu. Menyuruh orang lain untuk melakukan sesuatu yang tidak dilakukan, bukankah itu sikap yang egois. Mengutip perkataan Bapak Maulana “Guru yang berhenti belajar harus berhenti mengajar”. Dari perkataan Bapak Maulana ini sangat jelas bahwa perbuatan egoisme guru mengenai belajar ini bukan merupakan sifat yang baik dan tidak pantas ditiru.
Bedasarkan lima indikator generasi berkarakter instan yang tersebut di atas. Dapat disimpulkan bahwa generasi muda di Indonesia, khususnya para pelajar di sekolah dasar telah terjangkit beberapa penyakit karakter instan yang merugikan. Bahkan bukan hanya siswa yang terjangkit dengan penyakit karakter instan ini, beberapa guru tidak bertanggung jawab ikut serta menularkan karakter kurang baik kepada siswanya. Jika hal seperti ini terus dibiarkan, maka generasi muda Indonesia akan terancam hancur.

Ditulis oleh Asep Nanang
Referensi
Asmani, Jamal Ma’mur. (2011). Pendidikan karakter di sekolah. Jogjakarta: DIVA Press
Diskusi dengan Bapak Maulana, M.Pd.
Diskusi di salahsatu televisi swasta.


0 komentar:

Post a Comment