Friday, December 18, 2015

Ua Een yang Penuh Kasih!

Share

Sang guru qalbu adalah sebutan yang diberikan oleh dosen beliau semasa kuliah di UPI, Profesor Surya. Sebuah julukan yang pantas disandang sang guru yang memiliki semangat mengajar tinggi. Tidak diragukan lagi bahwa beliau memiliki semangat mengajar lebih baik dibandingkan guru-guru pada umumnya. Dengan segala keterbatasannya beliau menjadi seorang pendidik sejati yang bersungguh-sungguh berjuang mengikuti panggilan hatinya menjadi seorang guru. Een Sukaesih, nama itu melekat pada dirinya. Sebuah nama yang tidak asing lagi bagi masyarakat Sumedang, bahkan sudah dikenal luas di Indonesia sebagai seorang guru berhati mutiara.
Sejak lulus kuliah Een Sukaesih terbaring sakit di tempat tidurnya. Penyakit Rematoid Artifis yang menyerang tubuhnya membuat sang guru tak berdaya. Kelumpuhan sang guru qalbu berawal ketika ia duduk di kelas 3 SPG (sekolah pendidikan guru). Saat itu beliau seringkali mengeluhkan sakit pada sendi-sendi tangannya. Walau demikian beliau berjuang keras dan berkuliah di UPI Bandung. Setelah lulus dengan nilai cukup baik, perempuan yang dipanggil Ua Een itu diangkat menjadi guru di SMA Sindang Laut, Cirebon, Jawa Barat. Namun harapan beliau menjadi guru pupus karena penyakit Rematoid Artifis yang dideritanya semakin parah dan beliau mengalami kelumpuhan total. Mengingat keadaannya yang lumpuh Ua Een pernah mengalami stress berat dan marah dengan keadaan hidupnya, saking marahnya beliau merusak ijazah kuliahnya.
Dalam keadaan Ua Een yang demikian, akhirnya sang guru qalbu memilih jalan ikhlas menerima takdirnya. Mengajar anak kerabat merupakan pekerjaan yang menyenangkan bagi beliau untuk mengisi waktu luangnya. Pendekatan yang menarik dan penuh cinta kasih membuat tetangga-tetangga Ua Een mulai mempercayakan beliau untuk mengajar anak-anaknya. Sungguh mulia pekerjaan Ua Een yang mengajar secara sukarela dengan keadaannya yang memprihatinkan itu. Tidak heran jika muridnya semakin bertambah dari waktu ke waktu. Usaha Ua Een ternyata terendus oleh media massa. Hal ini membuat sang guru kalbu di ganjar berbagai penghargaan berikut: Dompet Dhuafa Award 2010, Education Award dari Bank Syariah Mandiri, Kartini Award, dan berbagai penghargaan lainnya. Kini sudah satu tahun beliau wafat dan mewariskan semangat mendidiknya pada generasi muda Indonesia. Saya selalu dibuat malu dengan perjuangan beliau dalam dunia pendidikan, malu karena seorang anak muda seperti saya tak bisa berbuat sesuatu yang luar biasa seperti beliau.

fly to the sky :)

0 komentar:

Post a Comment