
Sang
guru qalbu adalah sebutan yang diberikan oleh dosen beliau semasa kuliah di
UPI, Profesor Surya. Sebuah julukan yang pantas disandang sang guru yang
memiliki semangat mengajar tinggi. Tidak diragukan lagi bahwa beliau memiliki
semangat mengajar lebih baik dibandingkan guru-guru pada umumnya. Dengan segala
keterbatasannya beliau menjadi seorang pendidik sejati yang bersungguh-sungguh
berjuang mengikuti panggilan hatinya menjadi seorang guru. Een Sukaesih, nama
itu melekat pada dirinya. Sebuah nama yang tidak asing lagi bagi masyarakat
Sumedang, bahkan sudah dikenal luas di Indonesia sebagai seorang guru berhati
mutiara.
Sejak
lulus kuliah Een Sukaesih terbaring sakit di tempat tidurnya. Penyakit Rematoid
Artifis yang menyerang tubuhnya membuat sang guru tak berdaya. Kelumpuhan sang
guru qalbu berawal ketika ia duduk di kelas 3 SPG (sekolah pendidikan guru).
Saat itu beliau seringkali mengeluhkan sakit pada sendi-sendi tangannya. Walau
demikian beliau berjuang keras dan berkuliah di UPI Bandung. Setelah lulus
dengan nilai cukup baik, perempuan yang dipanggil Ua Een itu diangkat menjadi
guru di SMA Sindang Laut, Cirebon, Jawa Barat. Namun harapan beliau menjadi
guru pupus karena penyakit Rematoid Artifis yang dideritanya semakin parah dan
beliau mengalami kelumpuhan total. Mengingat keadaannya yang lumpuh Ua Een
pernah mengalami stress berat dan marah dengan keadaan hidupnya, saking
marahnya beliau merusak ijazah kuliahnya.
Dalam
keadaan Ua Een yang demikian, akhirnya sang guru qalbu memilih jalan ikhlas
menerima takdirnya. Mengajar anak kerabat merupakan pekerjaan yang menyenangkan
bagi beliau untuk mengisi waktu luangnya. Pendekatan yang menarik dan penuh
cinta kasih membuat tetangga-tetangga Ua Een mulai mempercayakan beliau untuk
mengajar anak-anaknya. Sungguh mulia pekerjaan Ua Een yang mengajar secara
sukarela dengan keadaannya yang memprihatinkan itu. Tidak heran jika muridnya
semakin bertambah dari waktu ke waktu. Usaha Ua Een ternyata terendus oleh media
massa. Hal ini membuat sang guru kalbu di ganjar berbagai penghargaan berikut:
Dompet Dhuafa Award 2010, Education Award dari Bank Syariah Mandiri, Kartini
Award, dan berbagai penghargaan lainnya. Kini sudah satu tahun beliau wafat dan
mewariskan semangat mendidiknya pada generasi muda Indonesia. Saya selalu dibuat malu dengan perjuangan beliau dalam dunia pendidikan, malu karena seorang anak muda seperti saya tak bisa berbuat sesuatu yang luar biasa seperti beliau.
0 komentar:
Post a Comment