Thursday, October 30, 2014

Cinta dan Persahabatan

Share

“Sahabatku, betapa aku ingin kau tahu bahwa aku telah menyukaimu sejak pertamakali kau sapa diriku. Aku melihat kerling mata yang indah pada tatapanmu yang begitu lurus, aku menemukan suara-suara surgawi pada setiap ucapan yang keluar dari mulutmu, dan aku merindukan waktu untuk selalu bersama dirimu. Mungkin aku telah berdosa pula karena terlalu jauh membayangkan dirimu dengan hasrat yang menggelora. Memimpikanmu dan berkhayal tentang kehidupan yang indah bersamamu”.
“Aku menyukaimu wahai sahabat,,, tapi kau juga harus tahu, bahwa rasa suka itu merupakan suatu rasa yang relatif dan bisa digeneralisasikan pada sahabat-sahabatku yang lain. Aku bisa saja merindukan matamu sembari membayangkan betapa merdunya suara sahabatku yang lainnya, atau sebaliknya. Tapi apakah aku salah jika menyukai keindahan yang demikian banyak yang terkandung dalam setiap jiwa sahabatku? Apakah aku salah memiliki banyak sahabat? Apakah aku salah jika aku mengagumi sahabat-sahabatku?”
“Jika itu salah, maafkan aku yang begitu sombong datang dalam hidupmu, memberimu harapan dan mimpi-mimpi yang begitu aneh sehingga kau menentang akal dan logikamu. Maafkan aku yang memberi kegelisahan yang banyak padamu, karena sesungguhnya aku adalah manusia yang tak pandai memberi harapan, tak pandai berjanji, dan aku juga manusia penuh dosa yang memiliki banyak masalah”.
“Sahabatku,,, biarlah cinta tetap menjadi cinta, diriku yang sekarang hanyalah seorang kerdil yang tak akan mampu menyentuh singasana cinta. Bukan karena aku tak percaya padamu, bukan pula karena aku tak suka bersamamu. Namun sekali lagi aku tegaskan, betapa aku manusia yang tak pantas dianugerahkan cinta pada saat ini. Biarlah aku berjalan di jalan setapak ini seorang diri dan kumohon padamu untuk tetap tinggal dalam singasana jiwamu yang murni ketika aku berkelana. Bebaskanlah jiwamu dan kau tak perlu menungguku, datang atau tidaknya aku padamu, tetaplah berbahagia dan lanjutkan hidup indahmu”.





0 komentar:

Post a Comment