“Sahabatku, betapa aku
ingin kau tahu bahwa aku telah menyukaimu sejak pertamakali kau sapa diriku.
Aku melihat kerling mata yang indah pada tatapanmu yang begitu lurus, aku
menemukan suara-suara surgawi pada setiap ucapan yang keluar dari mulutmu, dan
aku merindukan waktu untuk selalu bersama dirimu. Mungkin aku telah berdosa
pula karena terlalu jauh membayangkan dirimu dengan hasrat yang menggelora.
Memimpikanmu dan berkhayal tentang kehidupan yang indah bersamamu”.
“Aku menyukaimu wahai
sahabat,,, tapi kau juga harus tahu, bahwa rasa suka itu merupakan suatu rasa
yang relatif dan bisa digeneralisasikan pada sahabat-sahabatku yang lain. Aku
bisa saja merindukan matamu sembari membayangkan betapa merdunya suara
sahabatku yang lainnya, atau sebaliknya. Tapi apakah aku salah jika menyukai
keindahan yang demikian banyak yang terkandung dalam setiap jiwa sahabatku?
Apakah aku salah memiliki banyak sahabat? Apakah aku salah jika aku mengagumi
sahabat-sahabatku?”
“Jika itu salah, maafkan
aku yang begitu sombong datang dalam hidupmu, memberimu harapan dan mimpi-mimpi
yang begitu aneh sehingga kau menentang akal dan logikamu. Maafkan aku yang
memberi kegelisahan yang banyak padamu, karena sesungguhnya aku adalah manusia
yang tak pandai memberi harapan, tak pandai berjanji, dan aku juga manusia
penuh dosa yang memiliki banyak masalah”.
“Sahabatku,,, biarlah
cinta tetap menjadi cinta, diriku yang sekarang hanyalah seorang kerdil yang
tak akan mampu menyentuh singasana cinta. Bukan karena aku tak percaya padamu,
bukan pula karena aku tak suka bersamamu. Namun sekali lagi aku tegaskan,
betapa aku manusia yang tak pantas dianugerahkan cinta pada saat ini. Biarlah
aku berjalan di jalan setapak ini seorang diri dan kumohon padamu untuk tetap
tinggal dalam singasana jiwamu yang murni ketika aku berkelana. Bebaskanlah
jiwamu dan kau tak perlu menungguku, datang atau tidaknya aku padamu, tetaplah
berbahagia dan lanjutkan hidup indahmu”.
0 komentar:
Post a Comment