Aku berjalan disebuah
jalan bernama kehidupan, kutemui sebuah persimpangan yang membuatku kalut.
Arahku hilang, hatiku bimbang. Ranting-ranting kesengsaraan meranggas ditepian.
Daun-daun kenestapaan melambai diatas tanah derita. Gejolak cinta mendidih
layaknya kebohongan yang menuntut sebuah jawaban. Cinta telah menjarah akal dan
logika, bagaimana aku akan menjawabnya ?
Adalah seorang tua renta yang menghampiriku, dia
berkata “cinta adalah sebuah mimpi tanpa akhir yang membelenggu jiwa. Jika kau
turuti cinta hidup ini pasti kau sesali”
Aku tertegun, langkahku terhenti.
Adalah seorang lelaki dengan gitar usangnya
bernyanyi dihadapanku “cinta adalah seindah bunga harapan, setinggi gunung
impian, seluas samudera kecantikan dan membuatmu mabuk dalam kebahagiaan”
Aku tersenyum dan melangkah dengan penuh
keyakinan.
Adalah seorang gadis dengan mata yang sayu
menangis dihadapanku, ia berkata “cinta adalah racun dan upas yang akan
membunuh kebahagiaan dalam hatimu. Cinta memang indah tapi ia akan menyerangmu
saat kau lemah. Cinta memang suci, tapi suatu saat ia akan mengkhianati
mimpi-mimpimu. Cinta merupakan anugerah dari sang pencipta, tapi cinta bisa
menjadi bencana bagi manusia. Cinta hanya akan menghancurkan hidupmu”
Aku bimbang, keraguan mulai merasuk dalam
hatiku, aku sangsi dengan perjalanan yang aku lakukan ini, kemanakah tujuanku
yang sebenarnya? Dimana aku bisa menemukan cinta?
Adalah seorang wanita dengan tatapan mata penuh
keteduhan berbisik di telingaku “cinta adalah badai yang akan menjerumuskanmu
pada jurang kebahagiaan, ombak yang akan menyeretmu ke lautan kasih sayang,
peperangan yang akan membawa kedamaian”
Aku terpaku mendengar kata-kata yang begitu
indah dari wanita itu, seluruh tubuhku menggigil kaku, aliran darahku beku,
langkahku terhenti.
Adalah seorang anak kecil dengan mata yang polos
merengek dihadapanku “cinta adalah ayah dan ibuku, ayah memberi harapan, ibu
mengajarkanku kasih sayang. Mereka berdua yang mengerti tentang cinta, dan aku
belajar dari mereka”
Kuhamparkan jiwaku dipersimpangan, aku renungkan
ucapan mereka. Dengan sepenuh keyakinanku, kutinggalkan persimpangan dalam
remang diriku.
Aku pulang dengan sebait doa dalam perjalanan
cinta ini.
Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab
0 komentar:
Post a Comment