Tuesday, October 14, 2014

Perjalanan Cinta

Share
Aku berjalan disebuah jalan bernama kehidupan, kutemui sebuah persimpangan yang membuatku kalut. Arahku hilang, hatiku bimbang. Ranting-ranting kesengsaraan meranggas ditepian. Daun-daun kenestapaan melambai diatas tanah derita. Gejolak cinta mendidih layaknya kebohongan yang menuntut sebuah jawaban. Cinta telah menjarah akal dan logika, bagaimana aku akan menjawabnya ? 

Adalah seorang tua renta yang menghampiriku, dia berkata “cinta adalah sebuah mimpi tanpa akhir yang membelenggu jiwa. Jika kau turuti cinta hidup ini pasti kau sesali”
Aku tertegun, langkahku terhenti.
Adalah seorang lelaki dengan gitar usangnya bernyanyi dihadapanku “cinta adalah seindah bunga harapan, setinggi gunung impian, seluas samudera kecantikan dan membuatmu mabuk dalam kebahagiaan”
Aku tersenyum dan melangkah dengan penuh keyakinan.
Adalah seorang gadis dengan mata yang sayu menangis dihadapanku, ia berkata “cinta adalah racun dan upas yang akan membunuh kebahagiaan dalam hatimu. Cinta memang indah tapi ia akan menyerangmu saat kau lemah. Cinta memang suci, tapi suatu saat ia akan mengkhianati mimpi-mimpimu. Cinta merupakan anugerah dari sang pencipta, tapi cinta bisa menjadi bencana bagi manusia. Cinta hanya akan menghancurkan hidupmu”
Aku bimbang, keraguan mulai merasuk dalam hatiku, aku sangsi dengan perjalanan yang aku lakukan ini, kemanakah tujuanku yang sebenarnya? Dimana aku bisa menemukan cinta?
Adalah seorang wanita dengan tatapan mata penuh keteduhan berbisik di telingaku “cinta adalah badai yang akan menjerumuskanmu pada jurang kebahagiaan, ombak yang akan menyeretmu ke lautan kasih sayang, peperangan yang akan membawa kedamaian”
Aku terpaku mendengar kata-kata yang begitu indah dari wanita itu, seluruh tubuhku menggigil kaku, aliran darahku beku, langkahku terhenti.
Adalah seorang anak kecil dengan mata yang polos merengek dihadapanku “cinta adalah ayah dan ibuku, ayah memberi harapan, ibu mengajarkanku kasih sayang. Mereka berdua yang mengerti tentang cinta, dan aku belajar dari mereka”
Kuhamparkan jiwaku dipersimpangan, aku renungkan ucapan mereka. Dengan sepenuh keyakinanku, kutinggalkan persimpangan dalam remang diriku.
Aku pulang dengan sebait doa dalam perjalanan cinta ini.

0 komentar:

Post a Comment