Wednesday, October 8, 2014

Akal dan Nafsu

Share
Seringkali jiwa kalian adalah medan pertempuran, tempat akal dan penilaianmu berperang melawan nafsu dan seleramu.
Akankah aku dapat menjadi pembawa perdamaian dalam jiwamu sehingga aku dapat mengubah permusuhan dalam unsur-unsurmu sehingga menjadi persatuan dan harmoni?
Tetapi bagaimana aku bisa, jika kau sendiri yang membawa perdamaian dari unsur-unsurmu?
Akal dan nafsumu adala kemudi dan layar di dalam lautan jiwamu.
Bila layarmu atau kemudimu patah, kau bisa menyimpang, atau mungkin tetap berlayar di tengah laut.
Karena kal adalah kekuatan yang mengikat dan nafsu adalah api yang membakar sampai hancur.
Oleh karena itu, biarkan jiwamu mengagungkan akalmu sampai ketinggian nafsu agar ia bernyanyi; dan biarkan jiwamu mengarahkan nafsumu  dengan akal sehingga nafsumu bisa hidup melalui pemberontakannya dan seperti burung phoenix yang bangkit dari abunya sendiri.
Aku akan meminta kalian mempertimbangkan penilaian dan selera kalian, bahakan saat kalian menerima dua tamu dalam rumah kalian.
Yakinlah bahwa kalian tidak menghormati salahsatu tamu di atas melebihi yang lainnya, karena ia yang lebih waspada akan kehilangan cinta dan kepercayaan dari keduannya.
Di antara bukit, ketika kau duduk dalam bayangan pepohonan poplar putih yang sejuk, membagi kedamaian dan ketenangan ladang dan padang rumput, biarkan hatimu berkata dalam keheningan, “Tuhan berdiam dalam akal”.
Dan ketika badai menghantam dan anagin kencang mengguncang hutan, dan petir serta guntur memekikkan keajaiban langit, biarkan hatimu berkata, “Tuhan bergerak dalam nafsu”.

Dan karena kalian adalah napas di sisi Tuhan dan daun di hutan Tuhan, kalian pun harus berdiam dalam akal dan bergerak dalam nafsu.

Kahlil Gibran

0 komentar:

Post a Comment