Seringkali jiwa kalian
adalah medan pertempuran, tempat akal dan penilaianmu berperang melawan nafsu
dan seleramu.
Akankah aku dapat
menjadi pembawa perdamaian dalam jiwamu sehingga aku dapat mengubah permusuhan
dalam unsur-unsurmu sehingga menjadi persatuan dan harmoni?
Tetapi bagaimana aku
bisa, jika kau sendiri yang membawa perdamaian dari unsur-unsurmu?
Akal dan nafsumu adala
kemudi dan layar di dalam lautan jiwamu.
Bila layarmu atau
kemudimu patah, kau bisa menyimpang, atau mungkin tetap berlayar di tengah
laut.
Karena kal adalah
kekuatan yang mengikat dan nafsu adalah api yang membakar sampai hancur.
Oleh karena itu,
biarkan jiwamu mengagungkan akalmu sampai ketinggian nafsu agar ia bernyanyi;
dan biarkan jiwamu mengarahkan nafsumu
dengan akal sehingga nafsumu bisa hidup melalui pemberontakannya dan
seperti burung phoenix yang bangkit dari abunya sendiri.
Aku akan meminta kalian
mempertimbangkan penilaian dan selera kalian, bahakan saat kalian menerima dua
tamu dalam rumah kalian.
Yakinlah bahwa kalian
tidak menghormati salahsatu tamu di atas melebihi yang lainnya, karena ia yang
lebih waspada akan kehilangan cinta dan kepercayaan dari keduannya.
Di antara bukit, ketika
kau duduk dalam bayangan pepohonan poplar putih yang sejuk, membagi kedamaian
dan ketenangan ladang dan padang rumput, biarkan hatimu berkata dalam
keheningan, “Tuhan berdiam dalam akal”.
Dan ketika badai
menghantam dan anagin kencang mengguncang hutan, dan petir serta guntur
memekikkan keajaiban langit, biarkan hatimu berkata, “Tuhan bergerak dalam
nafsu”.
Dan karena kalian
adalah napas di sisi Tuhan dan daun di hutan Tuhan, kalian pun harus berdiam
dalam akal dan bergerak dalam nafsu.
Kahlil Gibran
0 komentar:
Post a Comment