Dengan segala
kepercayaan diriku ini aku berkata “Wanita berkerudung itu indah luar dalam,
udah mah cantik, tentu baik hatinya”, aku salah. Penyataan naif seseorang yang
belum tersentuh pahitnya kebenaran. Ya,,,, kebenaran yang agung dan sering
disembah oleh banyak manusia memang selalu menjanjikan kebaikan yang benar
adanya. Namun, aku tidak pernah menyangkan jika wujud dari kebenaran yang agung
ini begitu menyakitkan hati. Ia datang dengan geraman kemarahan, nyalang
matanya menatapku yang tak mampu melihatnya secara langsung.
Dalam gigil tubuhku
yang berjalan di dalam istana kesendirian, kuintip sang kebenaran dengan mata
telanjang. Sembari berdoa pada Tuhan agar aku dipertemukan dengan wujud asli
kebenaran. Layaknya seorang perawan desa yang anggun tubuhnya, manis mulutnya,
kerling matanya yang penuh dengan rahasia-rahasia tentang keindahan dunia,
kebenaran menyimpan rahasia yang lebih dalam, bahkan lebih indah dari rahasia
seribu wanita sekalipun.
Kebenaran dari wanita,
itulah rahasia alam yang menggoda imanku untuk mencarinya. Dalam kitab-kitab
diceritakan bahwa wanita (hawa) tercipta dari tulang rusuk lelaki (Adam).
Kitab-kitab juga yang menceritakan kepadaku bahwa hawa menggoda adam sehingga
adam keluar dari surga. Dari kitab-kitab pula aku temukan bahwa wanita disiksa
dengan semacam kutukan, wanita dilimpahkan dengan beban dosa keluarnya adam
dari surga. Lalu wajah para wanita ditutup dengan topeng-topeng iblis, padahal
hati mereka bersujud pada arsy Tuhan. Lalu apakah hal seperti itu pantas
disebut keindahan wanita? Ataukah ini kebenaran wanita? Kebenaran yang tidak
seindah mimpi-mimpi. Kebenaran yang melukai nurani.
Di masa lalu wanita
dipasung dengan laknat dan dianugerahi mahkota penindasan. Namun, di depan
mataku sendiri kusaksikan wanita-wanita pada masaku dirantai dengan rantai
kemaksiatan yang terbuat dari emas berhias mutiara liberalisme. Kesuciannya
dijagal oleh kilau kebendaan.
Inikah kebenaran?
Inikah rahasia agung seorang wanita? Kucari jawaban dari rentetan pertanyaan
itu. Jawaban yang tak pantas didengar, jawaban yang akan membakar daun telinga
dan membuminanguskan nurani manusia.
Maksiat
itu perbuatan nikmat namun terlaknat, hanya sesaat tapi menimpakan banyak
hujat. Betapa hati nurani manusia begitu melaknat perilaku maksiat, bahkan menyebut
maksiat sebagai suatu kutukan setan. Tetapi kemaksiatan kini telah dihias
dengan wewangian dari neraka, bertabur gemilang dosa, tumbuh diantara aliran
darah dalam setiap sendi kehidupan manusia.
Betapa sedih hati,
ketika seorang wanita cantik berkerudung tiba-tiba terlihat melendung. Katanya itu perbuatan Dudung,
ada yang bilang itu hasil karya Adung, tapi akhir-akhir ini terdengar cerita
bahwa pepelendungan wanita
berkerudung itu adalah buah cipta pemuda tanggung dari desa antah berantah yang
tak jelas bapa indungnya.
Ah,,,, siapa peduli
pada wanita yang telah kehilangan kesuciannya. Siapa juga yang mau mencintai
mereka yang sudah menggadaikan cintanya pada rantai setan. Siapa juga yang mau
memimpin biduk yang dihias dengan buah-buahan ranum dari neraka.
Tapi bukankah mereka
itu tetap manusia? Mereka titisan sang hawa? Bahkan Tuhan pun masih bisa
memaafkan mereka. Tentang hawa, Kitab-kitab lain menceritakan kejadian yang
sebenarnya. Bukanlah hawa yang menjerumuskan adam pada dosa-dosa. Adam
melakukan dosa atas kemauannya sendiri. Hawa adalah teman sang adam, dosa
mereka adalah kehendak mereka berdua atau mungkin cinta mereka berdua.
Antara cinta dan dosa,
mungkin itulah kata yang pantas untuk menggambarkan kemaksiatan ini. Agamaku,
agama rasulku dan agama Allah menuliskan dalam kitab cahayanya bahwa cinta
harus diikat agama, dihias akhlak mulia, dan di pupuk dengan doa. Cinta yang
menunggu dalam segenap puji-pujian dan selembar restu Tuhan adalah cinta yang
agung.
Cahaya kebenaran dalam
obor kenyataan membuka mataku pada hari itu. Tentang borok yang disembunyikan
dalam hijab. Tentang kudis yang tertutup baju-baju permata. Rahasia wanita yang
disebut “maksiat”.
Pada hari-hari yang
lalu aku meyakini bahwa wanita-wanita berkerudung itu bagai malaikat penjaga
surga yang tersenyum ramah sembari mempersilahkanku untuk duduk di singasana
surga. Aku selalu berkhayal, merekalah yang akan menemaniku ketika aku
sendirian didalam surga keabadian. Aku menggigil, malaikat itu! Wanita itu!
Aku mulai ketakuatan,
bagaimana jika didalam surga nanti aku tidak menemukan malaikat bernama wanita,
teman yang akan mengisi kehidupan sepiku di dalam surga. Aku menggigil. Ketakutan
merajai hati dan nuraniku. Bagaimana jika sang malaikat mengantarkan ke pintu
neraka, bukan surga? Apakah aku akan senang dengan buah-buah ranum dari
pohon-pohon neraka.
Kebenaran itu melukaiku.
Sayap-sayap harapannya membawaku ke angkasa luar, sehingga aku mampu melihat
dunia beserta bintang-bintang pada cerlangnya mata wanita. Tapi pisau dibalik sayap sang harapan
perlahan-lahan membunuhku dan memotong urat nadiku dengan sayatan yang tipis.
Aku menangis.
0 komentar:
Post a Comment