Saturday, July 26, 2014

Gelora Maksiat

Share
Dengan segala kepercayaan diriku ini aku berkata “Wanita berkerudung itu indah luar dalam, udah mah cantik, tentu baik hatinya”, aku salah. Penyataan naif seseorang yang belum tersentuh pahitnya kebenaran. Ya,,,, kebenaran yang agung dan sering disembah oleh banyak manusia memang selalu menjanjikan kebaikan yang benar adanya. Namun, aku tidak pernah menyangkan jika wujud dari kebenaran yang agung ini begitu menyakitkan hati. Ia datang dengan geraman kemarahan, nyalang matanya menatapku yang tak mampu melihatnya secara langsung.
Dalam gigil tubuhku yang berjalan di dalam istana kesendirian, kuintip sang kebenaran dengan mata telanjang. Sembari berdoa pada Tuhan agar aku dipertemukan dengan wujud asli kebenaran. Layaknya seorang perawan desa yang anggun tubuhnya, manis mulutnya, kerling matanya yang penuh dengan rahasia-rahasia tentang keindahan dunia, kebenaran menyimpan rahasia yang lebih dalam, bahkan lebih indah dari rahasia seribu wanita sekalipun.
Kebenaran dari wanita, itulah rahasia alam yang menggoda imanku untuk mencarinya. Dalam kitab-kitab diceritakan bahwa wanita (hawa) tercipta dari tulang rusuk lelaki (Adam). Kitab-kitab juga yang menceritakan kepadaku bahwa hawa menggoda adam sehingga adam keluar dari surga. Dari kitab-kitab pula aku temukan bahwa wanita disiksa dengan semacam kutukan, wanita dilimpahkan dengan beban dosa keluarnya adam dari surga. Lalu wajah para wanita ditutup dengan topeng-topeng iblis, padahal hati mereka bersujud pada arsy Tuhan. Lalu apakah hal seperti itu pantas disebut keindahan wanita? Ataukah ini kebenaran wanita? Kebenaran yang tidak seindah mimpi-mimpi. Kebenaran yang melukai nurani.
Di masa lalu wanita dipasung dengan laknat dan dianugerahi mahkota penindasan. Namun, di depan mataku sendiri kusaksikan wanita-wanita pada masaku dirantai dengan rantai kemaksiatan yang terbuat dari emas berhias mutiara liberalisme. Kesuciannya dijagal oleh kilau kebendaan.
Inikah kebenaran? Inikah rahasia agung seorang wanita? Kucari jawaban dari rentetan pertanyaan itu. Jawaban yang tak pantas didengar, jawaban yang akan membakar daun telinga dan membuminanguskan nurani manusia.
            Maksiat itu perbuatan nikmat namun terlaknat, hanya sesaat tapi menimpakan banyak hujat. Betapa hati nurani manusia begitu melaknat perilaku maksiat, bahkan menyebut maksiat sebagai suatu kutukan setan. Tetapi kemaksiatan kini telah dihias dengan wewangian dari neraka, bertabur gemilang dosa, tumbuh diantara aliran darah dalam setiap sendi kehidupan manusia.
Betapa sedih hati, ketika seorang wanita cantik berkerudung tiba-tiba terlihat melendung. Katanya itu perbuatan Dudung, ada yang bilang itu hasil karya Adung, tapi akhir-akhir ini terdengar cerita bahwa pepelendungan wanita berkerudung itu adalah buah cipta pemuda tanggung dari desa antah berantah yang tak jelas bapa indungnya.
Ah,,,, siapa peduli pada wanita yang telah kehilangan kesuciannya. Siapa juga yang mau mencintai mereka yang sudah menggadaikan cintanya pada rantai setan. Siapa juga yang mau memimpin biduk yang dihias dengan buah-buahan ranum dari neraka.
Tapi bukankah mereka itu tetap manusia? Mereka titisan sang hawa? Bahkan Tuhan pun masih bisa memaafkan mereka. Tentang hawa, Kitab-kitab lain menceritakan kejadian yang sebenarnya. Bukanlah hawa yang menjerumuskan adam pada dosa-dosa. Adam melakukan dosa atas kemauannya sendiri. Hawa adalah teman sang adam, dosa mereka adalah kehendak mereka berdua atau mungkin cinta mereka berdua.
Antara cinta dan dosa, mungkin itulah kata yang pantas untuk menggambarkan kemaksiatan ini. Agamaku, agama rasulku dan agama Allah menuliskan dalam kitab cahayanya bahwa cinta harus diikat agama, dihias akhlak mulia, dan di pupuk dengan doa. Cinta yang menunggu dalam segenap puji-pujian dan selembar restu Tuhan adalah cinta yang agung.
Cahaya kebenaran dalam obor kenyataan membuka mataku pada hari itu. Tentang borok yang disembunyikan dalam hijab. Tentang kudis yang tertutup baju-baju permata. Rahasia wanita yang disebut “maksiat”.
Pada hari-hari yang lalu aku meyakini bahwa wanita-wanita berkerudung itu bagai malaikat penjaga surga yang tersenyum ramah sembari mempersilahkanku untuk duduk di singasana surga. Aku selalu berkhayal, merekalah yang akan menemaniku ketika aku sendirian didalam surga keabadian. Aku menggigil, malaikat itu! Wanita itu!
Aku mulai ketakuatan, bagaimana jika didalam surga nanti aku tidak menemukan malaikat bernama wanita, teman yang akan mengisi kehidupan sepiku di dalam surga. Aku menggigil. Ketakutan merajai hati dan nuraniku. Bagaimana jika sang malaikat mengantarkan ke pintu neraka, bukan surga? Apakah aku akan senang dengan buah-buah ranum dari pohon-pohon neraka.

Kebenaran itu melukaiku. Sayap-sayap harapannya membawaku ke angkasa luar, sehingga aku mampu melihat dunia beserta bintang-bintang pada cerlangnya mata wanita.  Tapi pisau dibalik sayap sang harapan perlahan-lahan membunuhku dan memotong urat nadiku dengan sayatan yang tipis. Aku menangis.

0 komentar:

Post a Comment